Remedy - Biondy Alfian



Judul : Remedy (YARN 3)
Penulis : Biondy Alfian
Penerbit : Ice Cube
Tahun Terbit : 2015.
Halaman : 209












Ini nyata. Rasa sakit ini. Juga seluruh kehidupan ini.

Summary :
Tania tidak sengaja menemukan sebuah dompet di tangga sekolahnya. Dia membuka dompet itu lalu diam-diam mengambil uang yang ada di dalamnya. Dia melihat KTP yang berada di dalam dompet itu dan sesuatu menarik perhatiannya. Ada dua KTP di dalam dompet itu. Wajah di kedua foto itu sama, namun namanya berbeda, yang satu Navin Naftali dan yang satunya lagi Budi Sanjaya. Dan yang lebih membingungkan Tania, Navin yang ternyata murid di sekolahnya, ternyata berusia dua puluh tahun. Mengapa Navin yang berusia dua puluh tahun bisa menjadi murid SMA? Dan mengapa dia memiliki dua identitas yang berbeda?

Saat Tania berusaha mengetahui siapa Navin sebenarnya. Navin kelabakan karena dia kehilangan dompetnya. Bagaimana kalau ada murid yang melihat kedua KTP-nya? Navin pun mencari siapa penemu dompetnya. Dan saat dia akhirnya menemukan Tania dan berusaha memastikan gadis itu tidak mengungkap rahasianya, Navin justru mengetahui bahwa ternyata, Tania pun sama sepertinya, menyimpan sebuah rahasia kelam.



Cinta membuat seseorang berpura-pura. Cinta membuat semua orang berusaha tampil lebih dari diri sesungguhnya.

Review :
Buku ini adalah juara ketiga dari lomba Young Adult Realistic Novel yang diadakan Ice Cube Publishing. Buku ini adalah yang pertama kubaca dari seri ini karena sejak pertama kali baca blurb buku ini, aku langsung penasaran. Si Navin itu siapa? Kenapa dia punya dua KTP dengan nama dan usia yang berbeda? Apakah dia ada dalam witness protection program? Serial rapist? Detektif yang menyamar untuk menyelidiki sebuah kasus kejahatan di sekolah? Dari satu orang Navin aja langsung penasaran sama isi buku ini.

Buku ini menggunakan dua sudut pandang secara bergantian, yaitu sudut pandang orang pertama dari perspektif Tania dan juga sudut pandang orang ketiga. Menurutku cukup unik, karena aku baru pertama kali membaca buku dengan penggunaan point of view seperti ini. Being the incultured swine that I am, aku bahkan ngga tahu buku apa lagi yang punya sudut pandang seperti novel ini. Ada, sih, tapi biasanya hanya berganti di bagian prolog atau epilognya, ngga bergantian di setiap bab seperti di novel ini. Tapi yang penting, menurutku ini cara yang cukup cerdik. POV orang ketiga digunakan untuk membuka rahasia Navin secara perlahan-lahan pada pembaca, tanpa perlu membuat Tania tahu. Sementara POV orang pertama memungkinkan pembaca untuk mengenal Tania dan mengetahui perasaannya terlepas dari sifat Tania yang tertutup.

Tapi masalahnya tetap ada. Masalahnya tidak pergi.

Karakter-karakter di novel ini juga lumayan oke. Ada Tania yang penyendiri dan Navin yang tampan dan populer. Keduanya memiliki rahasia gelap yang berusaha mereka sembunyikan dari satu sama lain, Tania suka menyakiti dirinya dan Navin berusaha menyembunyikan identitas serta masa lalunya. Kalau secara individual, akumerasa biasa-biasa aja sama Tania dan Navin, ngga terlalu jatuh cinta pada mereka. Mungkin karena mereka menyimpan rahasia, jadi aku ngga merasa terlalu mengenal mereka. Ketika konflik sudah memuncak dan aku tahu apa yang mereka sembunyikan, barulah aku bisa bersimpati pada mereka.

 Tapi, aku suka banget hubungan antara Navin dan Tania, terutama di seperempat bagian terakhir. Two messed up kids against the world, hubungan mereka terasa tulus, terutama Navin. Nah, karakter yang paling kusuka justru Viki. Di awal Viki itu kelihatan seperti tipikal cewek centil gitu, tapi begitu penulis memberikan kesempatan bagi Viki untuk bersinar, dia jadi kelihatan istimewa.

Nah, sekarang kita bahas soal ceritanya. Jadi, dalam buku ini kedua karakter utama, Tania dan Navin, memiliki rahasia masing-masing, nah, rahasia itulah yang menurutku menjadi nyawa utama dari cerita ini. Topik pertama yang diangkat adalah soal self-harm. Menurutku buku ini cukup well-researched, penulis mendeskripsikan apa itu self-harm  dan apa yang sebenarnya dirasakan pelaku self-harm itu dengan baik. Dan aku sangat senang karena begitu Navin mengetahui bahwa Tania suka menyakiti dirinya sendiri, Navin langsung mencari bantuan, karena itu memang tindakan yang harus dilakukan jika kita mengetahui seseorang melakukan self-harm.

Goresan di lenganku ini menolongku agar tetap hidup. 

Topik kedua adalah soal identitas ganda Navin. Nah, yang satu ini, nih, yang jadi alasan buku ini page turning banget. Dari awal udah kepingin tahu aja Navin ini kenapa, sih, punya dua KTP? Dia itu siapa, sih? Dan waktu aku tahu apa yang disembunyikan Navin, I was like, Ooooh, ternyata.... Makin penasaran ngga? XP Aku pikir cerita tentang self-harming aja sudah cukup kelam, ya, ternyata, semakin ke belakang, cerita di buku ini semakin kelam aja. Saat aku pikir cerita yang kuketahui tentang Navin dan Tania sudah cukup gelap, muncul sesuatu yang lain yang benar-benar membuatku terkejut.



Lagi pula, semua orang punya hal-hal yang tidak ingin mereka buka bagi orang lain. Bagi Navin, hal itu adalah identitasnya. Bagiku, goresan-goresan di kedua lenganku.


Overall :
Aku suka banget sama buku ini. Benar-benar layak jadi salah satu juara di lomba YARN. Aku suka karena buku ini ngga glamorizing self-harm. Justru, cerita Tania bisa ngasih tahu pembaca bahwa self-harm is a real issue and the person doing it is going through a hell. Gaya penulisannya juga rapi dan enak dibaca. Seandainya aku bisa mulai bersimpati pada Navin dan Tania sejak di bagian awal, aku pasti lebih menyukai buku ini. Aku rekomendasikan buku ini untuk kalian yang suka membaca buku young adult tentang mental health issue atau cerita yang agak dark. Intinya, selamat membaca karya debut yang sangat cantik dari Biondy Alfian ini :)

3 comments:

  1. Great. Terus menulis ya, ditunggu karya lainnya. :)

    ReplyDelete
  2. jadi penasaran gini sm novelnya :)
    mampir dong kak https://aksarasenandika.wordpress.com/2014/11/20/kiri-atau-kanan-satu/

    ReplyDelete
  3. Yuk dibeli novelnya. Beli juga novel di seri YARN yang lainnya :)

    ReplyDelete